BANGSAHEBAT.COM - Musik bukan sekadar hiburan — ia adalah bahasa hati, barang publik, sekaligus mata pencaharian. Namun akhir-akhir ini, perdebatan hangat soal royalti musik di Indonesia mengangkat persoalan serius: bagaimana kita menghargai pencipta lagu tanpa membebani pengguna karya? Dan bagaimana menjamin keadilan finansial tanpa merusak ekosistem?
1. Perjuangan dan Regulasi yang Tersendat
Pencipta lagu sering kali menerima royalti yang jauh dari layak. Fenomena ini mencerminkan sistem yang perlu perbaikan serius. Sejumlah lembaga kolektif seperti LMKN dan LMK diharapkan menjadi jembatan yang adil antara pengguna dan pencipta—namun sayangnya, ketimpangan dan minimnya transparansi malah menimbulkan skeptisisme.
2. Kesadaran Hukum dan Sosialisasi yang Ketinggalan
Padahal, UU Hak Cipta dan peraturan turunannya sudah hadir sejak lama. Namun budaya menghargai hak cipta belum mengakar, apalagi untuk penggunaan publik dan komersial. Kebijakan sering dicetuskan tanpa edukasi cukup, sehingga terasa mendadak dan membingungkan.
3. Risiko Kebijakan yang Salah Atur
Jika terlalu kaku dan tarif royalti tidak masuk akal, musik kita bisa kehilangan panggung—terutama di kafe, hotel, dan UMKM. Bukannya menjamin keadilan, justru bisa mendorong pemilik usaha memilih musik asing atau bebas royalti—dan itu sebenarnya mematikan ekosistem lokal.
4. Transparansi adalah Kunci
Musisi dan pencipta lagu menuntut laporan royalty yang transparan: tahu lagu mana yang sering diputar, di mana, dan seberapa lama. Laporan bersifat samar-samar hanya menambah keraguan. Kunci kepercayaan adalah sistem yang akuntabel, berbasis data, bukan distribusi merata tanpa dasar jelas.
5. Menuju Solusi: Sistem Hybrid & Digital
Konsep seperti direct licensing — yaitu perizinan langsung antara pencipta dengan pengguna — mulai diusulkan sebagai alternatif ideal. Sementara itu, LMK bisa diperkuat dengan sistem digital real-time: mendeteksi lagu yang diputar, lalu secara otomatis menghitung royalti yang pantas. Politik modern tak boleh abai teknologi.
Royalti musik bukan semata soal angka bayar — tetapi cermin komitmen bangsa terhadap kreativitas dan keadilan. Mari kita membangun sistem yang menghargai pencipta sekaligus realistis bagi pengguna. Musik Indonesia punya potensi besar; jangan biarkan regulasi salah arah memupusnya.
Reformasi diperlukan — bukan hanya untuk struktur, tapi juga untuk hati dan sikap.
Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI atau Cek id.bangsahebat.com